Stay at Home: Menambal Pendidikan Kita

Artikel

Oleh: Ruchman Basori
Dosen UNUSIA Jakarta dan Mahasiswa S3 Universitas Negeri Semarang

Sudah sekian lama, pendidikan kita di sekolah dan madrasah sampai perguruan tinggi, dinilai lebih mementingkan pemindahan ilmu pengetahuan (transfer of knowledge) daripada pemindahan nilai (transfer of value).

Dalam bahasa Bloom lebih ke kognitif daripada aspek afektif dan psikomotorik. Padahal pendidikan harus bermakna merubah perilaku agar peserta didik dapat menjalankan tugas dan tanggungjawab kehidupan.
Karenanya sering kita jumpai, seorang siswa yang memperoleh nilai pendidikan Pancasila 9 atau pelajaran akhlaknya 9, tetapi perilakunya kurang mencerminkan angka 9 itu. Sekali lagi karena evaluasi kita hanya baru bisa mengukur capaian kognitif, belum pada aspek afektif dan psikomotor.

Itulah salah satu kelemahan model pendidikan madrasi/persekolahan kita. Keterbatasan waktu, ketrampilan guru mengajar, model evaluasi dan lingkungan pembelajaran kurang mendukung bagi tumbuhnya kepribadian paripurna. Rumah sebagai salah satu institusi penting pendidikan menjadi harapan.
*
Munculnya wabah virus corona yang di kenal dengan covid-19, menghendaki setiap orang untuk tinggal atau diam di rumah (stay at home). Perguruan tinggi sampai pendidikan dasar juga pondok pesantren dan Madrasah Diniyah Takmiliyah meliburkan peserta didiknya untuk belajar di rumah, untuk jangka waktu tertentu.

Pada saat yang sama, perkantoran pemerintahan dan juga kalangan swasta menganjurkan untuk kerja di rumah. Sebuah komitmen bersama yang dianjurkan pemerintah untuk menangkal laju virus yang semakin mengganas dan menyerang siapa saja.

Bagi saya ini kesempatan emas untuk melakukan refleksi mendalam tentang rumah kita. Relasi antara kita dengan keluarga yang selama ini terkesan rutinitas dan kurang disadari mengemban makna mulia pendidikan.

Selama di rumah harus kita maknai untuk menambal kepongahan atau kekurangan pendidikan anak-anak kita selama ini pada sekolah dan madrasah formal. Termasuk pada pendidikan tinggi kita. Bukan malah sebaliknya apa yang dilakukan oleh para guru dengan memberikan tugas yang maha berat dengan pendekatan online.

Para istri kita di rumah sangat terbebani dengan tugas yang diberikan kepada putra-puterinya di rumah. Seakan dengan libur 14 hari menjadi sebuah kerugian besar, akan asupan pengetahuan yang tidak dapat diperankan secara normal di sekolah.

Coba kita merenung sebentar, bagaimana kalau tinggal di rumah untuk sementara waktu, dimaknai menghadirkan kembali pendidikan di keluarga yang beberapa waktu kemarin mulai menjadi terabaikan.
*
Di rumah saatnya mengembangkan pendidikan nilai (transfer of value) yang selama ini kurang dikembangkan secara optimal di sekolah. Rumah menjadi institusi penting mendidik sopan santun, saling menghargai, tanggungjawab, disiplin, kerjasama dan beroroentasi kepasrahan pada Tuhan (theosentris).

Nilai dalam bahasa Inggris disebut value. Nilai masuk dalam bidang kajian filsafat, yaitu filsafat nilai. Istilah nilai dalam bidang filsafat dipakai untuk menunjukan kata benda yang abstrak, yang artinya worlh (keberhargaan) atau goodness (kebaikan).

Ralp Perry mendefinisikan nilai dengan “value as any object of any interest”, bahwa nilai sebagai suatu objek dari suatu minat individu. Sementara John Dewey menyatakan: “…..value is any object of social interest”. sesuatu bernilai apabila disukai dan dibenarkan oleh sekelompok manusia (sosial). Dewey mengutamakan kesepakatan sosial (masyarakat, antar manusia, termasuk negara). Gordon Allport mendefinisikan nilai adalah keyakinan yang membuat seseorang bertindak atas dasar pilihannya.

Stay at home saatnya untuk menguji pengetahuan yang selama ini didadapatkan di pendidikan formal, terimplementasikan dengan baik di rumah. Pada saat yang sama di rumah anak bisa langsung belajar pendidikan keteladanan yang dicontohkan kedua orang tuanya.

Di rumah, anak juga belajar “membiasakan diri” untuk berprilaku positif. Bangun pagi, menata tempat tidur, mencuci pakaian, membantu memasak di dapur hingga kebiasaan-kebiasaan yang sangat bermanfaat nantinya. Konon kebiasaan di rumah akan menjadikan dia menjadi warga masyarakat yang baik.
*
Para guru di sekolah dan madrasah tidak perlu khawatir, karena stay at home adalah bukan kerugian besar bagi pendidikan di madrasah dan sekolah, tetapi justeru sebaliknya akan menjadi penambal dari apa yang selama ini kurang optimal di kembangkan di sekolah.

Guru tidak perlu membebani tugas-tugas kepada para siswanya selama di rumah dengan mengisi lembar kerja siswa, mencari sumber di internet atau menghafal mata pelajaran tertntu. Mungkin bisa dengan pendekatan laporan, agar siswa melaporkan apa saja yang diakerjakan di rumah. Membantu orang tua, mengerjakan pekerjaan rumah, hidup bersama, kebiasaan di rumah dan lain sebagainya.

Semoga selama stay at home, para peserta didik kita akan tambah dewasa dan bertanggungjawab sebagaimana tujuan pendidikan yaitu menjadikan peserta didik ke arah kedewasaan. Rumah menjadi tempat terbaik agar terjadinya transfer of value dengan optimal.

Dibutuhkan kesadaran dan komitmen para orang tua, agar selama liburan di rumah menghadirkan kehidupan yang bermakna edukatif. Walau saya tahu godaan anak-anak kita saat ini adalah handphone yang kini menjadi ancaman sekaligus peluang putra-puteri kita untuk maju.

Laporan kerja siswa di rumah bisa menjadi evaluasi pendidikan, tak kalah pentingnya dengan mengerjakan 100 butir soal yang berorientasi pengetahuan. Kebebersamaan, kemandirian, komitmen, dedikasi, tanggungjawab dan rasa disiplin mahal harganya. Belum tentu selesai di didik dalam waktu 3 atau 6 tahun di sekolah. Kini saatnya arif memandang rumah sebagai tempat pendidikan, yang akan menambah kesempurnaan pendidikan di sekolah dan madrasah. Wallahu a’lam bi al-shawab.

Pamulang, 26 Maret 2020

Bagikan Tulisan

1 thought on “Stay at Home: Menambal Pendidikan Kita

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *