KH. A. Tamamuddin Dan Bait As Syuffah: Membaca Kitab Kunung Melalui Metode Utawi Iki Iku

Kajian

Oleh: Ubaidillah Achmad (Penulis Suluk Kiai Cebolek, Islam Geger Kendeng, Khadim PP. Bait As Syuffah An Nahdliyah)

Pesantren merupakan bagian dari sejarah Islam Nusantara, yang tidak bisa meninggalkan “kota santri” bernama Rembang. Hal senada, juga berdirinya Nahdlatul Ulama, adalah bagian dari sejarah pandangan Ulama yang memiliki geneologi keilmuan dengan lembaga pendidikan Islam di Kajen Margoyoso Pati dan Lasem-Sarang-Sedan-Pamotan Kab Rembang.

Tidak heran, jika lagu suasana di kota santri dibuat dari inspirasi keberadaan Rembang sebagai kota santri. Karenanya, jika membaca sejarah perkembangan pesantren, maka akan ditemukan sejarah Rembang yang pernah menjadi pusat pembelajaran santri Indonesia. Beberapa lokasi pesantren di Kab. Rembang yang mengisi sejarah pesantren, adalah Kota, Lasem, Sarang, Tuyuhan-lasem, Sedan, Njumput-pamotan.  Keenam titik kawasan ini melahirkan para alumni pesantren, yang kini telah menguatkan sejarah Islam Nusantara.

Karena keterbatasan ruang pembahasan kajian, maka tulisan ini hanya akan membatasi pembahasan pada kekhasan model pembelajaran santri di pesantren Njumput atau Bait As Syuffah An Nahdliyah. Mengapa Bait As Syuffah An Nahdliyah disebut pesantren Njumput? Hal ini karena didasarkan pada keberadaannya yang terletak di desa Njumput yang sekarang dikenal dengan desa Sidorejo Pamotan Rembang. Bait As Syuffah, adalah sebuah rumah yang berbeda dengan rumah pada umumnya. Ia menjadi tempat studi para santri mendalami ilmu agama (tafaqquh fiddiin).

Rumah As Syuffah atau Bait As Syuffah, adalah petilasan Mbah Tamam mendiskusikan perkembangan yayasan yang beliau kelola (Al Falah), masyarakat, dan perkembangan NU. Semula tidak diperkirakan, jika rumah ini akan menjadi rumah para santri belajar tradisi keilmuan Islam Nusantara. Dari rumah ini, telah beredar luas karya penting tentang leluhur Mbah Tamam, yaitu Syekh Ahmad Al Mutamakkin, sebagai pelaku suluk dalam buku Suluk Kiai Cebolek. Buku Islam Geger Kendeng Dalam Konflik Ekologis Dan Rekonsoliasi Akar Rumput, juga hasil dari lingkar diskusi yang berkembang di Bait As Syuffah.

Rumah As Syuffah di isi oleh para santri yang datang dari luar Rembang dan lingkungan masyarakat Rembang. Selain santri, penulis mengelola Rumah As Syuffah ini, dibantu oleh pengasuh yang khusus menangani kajian kitab kuning (Kiai Muhaimin, seorang santri yang sejak kecil belajar dengan Mbah Tamam) dan dibantu seorang yang hafal Al Qur’an. Selain itu, juga atas dukungan sahabat dari Bogor, bernama Ustadz Abdul Aziz Effendy Al Haj. Di lingkungan rumah As Syuffah, juga ada Masjid, sekolah yang didirikan Mbah Tamam dan para santri yang menetap menjadi bagian dari masyarakat Njumput.

Geneologi Pesantren Njumput

Alasan rumah ini disebut dengan As Syuffah, karena letak bangunannya yang dekat dengan Masjid. Penggunaan nama “AsSyuffah” merujuk pada kisah Sahabat Syekh Maulana Abu Hurairah dalam sejarah Nabi Muhammad, ketika terjadi hijrah dari Makkkah ke Madinah, para sahabat tidak memiliki tempat tinggal, dengan dipimpin oleh Syekh Maulana Abu Hurairah, mereka ini tinggal di luar Masjid. Mereka yang berada pada bangunan di luar masjid ini disebut generasi As Syuffah.

Karena bangunan dibelakang masjid ini tidak berpapan yang menunjukkan tulisan PP. Bait As Syuffah An Nahdliyyah, maka kebanyakan masyarakat dan wali santri menyebut Pesantren Njumput. Pesantren Njumput, seperti pesantren pada umumnya yang dinisbahkan kepada desa lokasi pesantren, seperti Kajen, Lirboyo, Tegalrejo, Langitan. Penulis mengembangkan pesantren ini dengan didasarkan pada sandaran keunikan dan kekhasan KH. A. Tamamuddin Munji mengkaji kitab kuning dengan mempertahankan metode yang sudah masyhur di lingkungan pesantren NU. Hingga sekarang, belum ada penelitian pasti, siapa penemu metode ini, karena sudah berkembang luas seiring belum ditemukannya penemu metode utawi iki iku.

Belum ada satu tahun ini, rumah As Syuffah sering dijadikan santri Mbah Tamam, kegiatan masyarakat dan kegiatan NU. Hal ini yang diperkirakan menjadi perhatian masyarakat dan santri untuk belajar di rumah ini. Misalnya, kegiatan malam mingguan dan malam seninan.

Sebagai seorang Ulama yang faqih dan Mursyid Thariqah Naqsyabandiyah, Mbah Tamam memiliki sikap yang terbuka terhadap gerakan Islam dan perkembangan Masyarakat. Beliau juga pernah menjadi Rais Syuriyah NU Cabang Rembang, selama 2 periode 1998 – 2003 dan 2003 – 2008. Selain itu, juga Ketua MUI Kab. Rembang. Perjuangan Mbah Tamam ini, sudah dimulai jauh sebelum di Rembang, yaitu sejak dari desa kelahiran asal geneologi Mbah Tamam, yaitu desa Kajen. Desa Kajen Pati ini, telah menjadi desa yang melahirkan para dzuriyah Syekh Ahmad Al Mutamakkin.

Mbah Tamam adalah cucu KH. Abdullah Ismail, pendiri pesantren pertama desa Kajen Pati, yang dulu dikenal dengan pesantren tengah, yang terletak dekat dengan Masjid Kajen. Mbah Ismail ini, telah mendampingi banyak para Kiai yang bergabung pada organisasi Nahdlatul Ulama. Karena Mbah Ismail, telah wafat muda di Makkah, sedangkan usia putra beliau (KH. Abdullah Munji) masih kecil, maka pesantren tengah yang didirikan oleh beliau, sempat mengalami kekosongan pengasuh.

Pada masa kepengasuhan Mbah Munji, Pesantren tengah sering di tinggal beliau untuk memberikan pendampingan kepada masyarakat, untuk mengenalkan nilai Islam Nusantara maupun untuk melawan penjajah Belanda. Sama dengan sejarah sebelumnya, Mbah Munji wafat, sementara putra dan putri beliau masih kecil, sehingga pesantren mengalami kekosongan lagi, namun setelah KH. A. Fayumi dewasa, dengan penuh semangat melanjutkan kajian khazanah at turats dan melanjutkan pesantren tengah dengan nama baru, yaitu pesantren Raudlatul Ulum (PRU). Sekarang ini PRU dilanjutkan kedua putra beliau, KH. Muhammad Ismail dan KH. Abdullah Umar.

Bersamaan dengan kegigihan KH. A. Fayumi Munji Merintis kembali PP. Raudlatul Ulum. Kini, Pesantren Raudlatul Ulum berkembang pesat dalam pendampingan kedua putra beliau, bernama KH. Muhammad Ismail dan KH. Abdullah Umar. Bersamaan Mbah Fayumi merintis PRU, adik beliau, bernama KH. A. Tamamuddin Munji, juga merintis Pesantren Njumput Dan Yayasan Al Falah. Dari rintisan Mbah Tamam ini, telah berkembang Bait As Syuffah An Nahdliyah.

Kitab Kuning Dan Studi As Syuffah

Kitab kuning merupakan rujukan dan menjadi kajian penting di Pesantren Njumput atau Bait As Syuffah. Dalam kajian kitab menggunakan metode “utawi iki iku” atau “makna gandul” berbahasa Jawa. Setiap kata Arab, diberi arti dengan arab pegon. Dalam sub bab berikut akan dijelaskan simbol huruf yang berfungsi sebagai tanda terjemah per kata ini (tarkib). Adapun disebut kitab kuning, karena umumnya karya yang berusia tua, yang ditulis sejak abad pertengahan, dan ditulis dengan aksara Arab gundul atau tanpa harakat.

Dalam studi teks karya penting abad pertengahan ini, langsung penulis sampaikan kepada para santri, misalnya, kitab hadits Bukhari dan Muslim, Fathul Qarib, Fathul Muin, Fathul Wahhab, syarh Al-Hikam, Bidayatul Hidayah serta tafsir Jalalain.

Jadi, dalam pembacaan kitab kuning melalui metode “utawi iki iku”, secara otomatis para santri mempraktekkan kajian: nahwu-i’rab (sintaksis), sharaf (morfologi), kosa kata, dan penafsiran (interpretasi) terhadap teks. Sedangkan, metode gramatikal yang digunakan untuk menerjemahkan susunan teks, adalah bersifat khas, bahasa jawa.

Hal ini, bisa dibaca pada contoh berikut: Pertama, mubtada bersimbol (م), bermakna “utawi”, berfungsi untuk menjelaskan permulaan kata yang diberitakan. Kedua, khobar bersimbol (خ), bermakna “iku”, berfungsi untuk memberikan kategori yang melengkapi makna mubtada’. Ketiga, fa’il, bersimbol (سف) bermakna “sopo”, berfungsi untuk menunjukkan pelaku yang beraqal dari suatu pekerjaan. Keempat, “maf’ul bih”, bersimbol (مف) bermakna “ing”, berfungsi untuk menunjukkan pekerjaan fail jatuh padanya, baik berupa isbhat (positif) maupun nafi (negatif).

Kelima, “maf’ul li -ajlih”, bersimbol (ع) bermakna “kerono”, berfungsu untuk menunjukkan alasan suatu pekerjaan. Keenam, “maf’ul muthlaq”, bersimbol (مط) bermakna “kelawan” berfungsi untuk penegasan, penjelasan jenis atau jumlah fi’il. Ketujuh, “tamyiz”, bersimbol (تم) bermakna “apane”, berfungsi untuk menjelaskan kalimah sebelumnya yg samar. Kedelapan, “hal”, bersimbol (حا) bermakna “haleh”, berfungsi untuk menerangkan perihal (keadaan) atau perilaku Fa’il atau Maf’ul bih ketika perbuatan itu terjadi, dan masing-masing fa’il dan maf’ul bih tersebut dinamakan Shohibul Haal.

Kesembilan, “badal” atau kata penyerta, bersimbol (بد), bermakna “rupane”, berfungsi untuk menggantikan kedudukan lafazh sebelumnya tanpa mempergunakan kata penghubung antara badal itu sendiri dengan kata yang diikuti. Contoh : كَانَ الحَلِيْفَةُ عُمَرُ عَاِدلأً (khalifah Umar adalah khalifah yang adil). Kesepuluh, “bayan“, bersimbol (ب), bermakna “bayane”, berfungsi untuk menerangkan atau menjelaskan sesuatu perkara yang belum jelas بما فيه من الايات والذكر الحكيم.

Kesebelas, “zhorf”, bersimbol (ظ), bermakna “ing dalem” untuk menjelaskan posisi kata dalam kalimat. Keduabelas, “na’at/shifat”, bersimbol (ص), bermakna “kang”, berfungsi untuk menjelaskan posisi kata sebagai “na’at/shifat” dari kata yang disifati. Ketigabelas, “jawab” bersimbol (ج) bermakna “mongko”, berfungsi untuk menjelaskan posisi kata sebagai jawab. Keempatbelas, “nafi”, bersimbol (نف), bermakna “ora”, berfungsi untuk menjelaskan posisi kata sebagai peniada. Kelimabelas, “jamak”, bersimbol (ج), bermakna “piro-piro” untuk menjelaskan kuantitas kata.

Dari kelima belas hukum bacaan di atas, yang menjadi dasar sering mengawali kalimat bersusunan bahasa arab perspektif Utawi Iki Iku, adalah kata “utawi” yang menunjukkan sebagai bacaan “mubtada’”. Seringkali, kata yang menjadi mubtada’ini, diikuti Alif dan Lam istighraqiyah, bermakna “sekabehane” atau “seluruhnya”, yang mencakup semua jenis makna kata yang dilekati. Misalnya, pada kata “hamdun” yang dilekati “alif lam istighroqiyyah”, maka maksud puji (hamdun) bisa bermakna segala macam dan jenis puji”.

Adapun, kata yang berada sesudah Mubtada’, adalah kata khabar, bermakna “iku” —para kiai sering menambahkan kata sesudahnya dengan “tetep”. Dalam teori gramatikal, kata “tetep” ini di ambil dari “khobar mahdzuf muta’alliq” dengan “harf jarr” sesudahnya. Khobar mahdzuf itu boleh diperkirakan lafaz “istaqorro” atau “mustaqirrun”. Hal ini, bisa dilihat pada contoh kalimat “Alhamdlulillah”. Sebagai lanjutan, huruf “LAM” pada kata lillah, adalah “lam istihqoqiyyah”, berarti “kagungane”.

Demikian catatan singkat, khazanah Ulama’ Nusantara tentang model pembacaan kitab kuning dengan metode “Utawi Iki Iku”. Sebagaimana yang dipaparkan di atas, adalah metode yang sudah turun temurun di lingkungan tradisi pesantren, yang sulit disimpulkan: siapakah penemu motode ini? karenanya, tulisan ini hanya bersifat mengulas metode yang juga penulis terapkan di Pesantren Njumput atau Rumah As Syuffah. #Repost nujateng.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *